Thursday, July 5, 2018

Penjelasan Ilmiah Kenapa Evakuasi Korban dan KM Sinabung dihentikan

ADA 162 MAYAT DI SANA, KENAPA DIHENTIKAN?- Sudah beberapa hari ini evakuasi korban dan KM Sinabung yang tenggelam di Danau Toba dihentikan. Banyak pihak yang mempertanyakan mengapa dihentikan, salah satunya Aktivis sosial Ratna Sarumpaet di Posko Korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba.
KM Sinabung dan Foto korban yang tenggelam
Sebagai orang awam tentu ikut mempertanyakan, dan perlu penjelasan yang ilmiah dan logis agar masyarakat mengerti. Seorang penulis bidang Underwater Archaeologis Jajang Agus Sanjaya memposting penjelasan evakuasi korban dan KM Sinabung di Danau Toba.

Berikut isi dari status beliau yang bisa kita pahami.
ADA 162 MAYAT DI SANA, KENAPA DIHENTIKAN?
Itu salah satu kalimat yang dilontarkan Ratna Sarumpaet di Posko Korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba. Aktivis sosial senior ini mengaku mewakili keluarga korban. Sepertinya tidak semua keluarga mewakilkan pada Ratna Sarumpaet, karena ada seorang ibu yg didukung beberapa orang lain yang memprotes Ratna Sarumpaet. Ibu itu langsung diserang Ratna Sarumpaet dengan tuduhan sudah dibayar. Perbincangan perihal Ratna Sarumpaet di Danau Toba pun mencuat, terlebih setelah adu mulut dengan Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman. Rasa kemanusian saya terusik melihat pertengkaran di tengah suasana duka mendalam, bahkan komentar-komentar atas itu lalu sarat muatan politik.

Sebelum pertanyaan Ratna Sarumpaet saya jawab atau ada yang menjawab, kenapa pencarian dihentikan, saya ingin mengajukan pertanyaan pada aktivis sosial ini, pada keluaga korban, pada kita semua. Mengapa jenazah-jenazah itu harus diangkat? Apa bedanya tidur panjang di dasar danau dengan dikubur di dalam tanah? Dengan dibiarkan di dasar danau, kemungkinan tubuh tetap intact (tersusun utuh) jauh lebih besar ketimbang jika diangkat. Jenazah itu ada di kedalaman 450 meter. Setiap 10 meter nambah tekanan 1 atm. Berarti jenazah-jenazah itu berada di tekanan 46 atm (1 atmosfer standar = 1,01325 bar). Hitungan ini relatif sifatnya ya, tapi setidaknya bisa untuk gambaran. Saya berani menyebut angka ini sebab Luhut Binsar Pandjaitan sudah me-realese 45 bar. Tekanan di laut dan danau mesti beda. Perlu alat untuk mengukur secara pasti.

Untuk memahami dampak tekanan, saya ambil contoh begini. Jika saya naik terlalu cepat dari kedalalaman 20 meter (3 atm) ke permukaan air, paru-paru saya akan pecah dan gendang telinga kemungkinan bocor. Satu contoh lagi. Saya pernah terlibat pengangkatan barang muatan kapal tenggelam di perairan Blanakan. Keramik yang di kedalaman 48-60 meter itu baik-baik saja, ketika sampai di atas pecah seribu (retak-retak halus). Memang, proses yang bekerja pada keramik nahas itu bukan hanya tekanan, tapi juga penggaraman dan proses fisika dan kimia yang lain. Mari kita bayangkan apa yang terjadi dengan tubuh manusia yang sudah berhari-hari berada di kedalaman bertekanan 46 atm. Kemungkinan yang bisa sampai ke permukaan hanya tinggal pakaian, rambut, sebagian tulang, dan daging-daging pucat yang terkoyak. Apakah keluarga korban siap? Ibu Monika Simarmata, istri salah seorang korban menyatakan siap menerima jenazah suaminya, meskipun hanya potongan.

Ini baru dari soal tekanan, belum dari kondisi jenazah yang tercecer karena sempat keluar kapal sebelum meninggal atau keluar dari pintu/jendela karena arus. Tidak semua jenazah terperangkap dalam kapal. Yang tercecer satu-satu ini bagaimana cara mengambilnya? Di dasar sana tekanannya 46 atm. Selain itu jarak pandang (visbility) zero. Lampu kamera robot hanya mampu tembus 1-2 meter. Pantas saja Luhut menyuruh Ratna Sarumpaet menyelam sendiri, sebab kesal dengan cercaan tokoh perempuan ini. Andai Luhut Binsar Pandjaitan menghadapi dengan kepala dingin dan bisa menjelaskan alasan-alasannya secara rinci, mereka tidak perlu bersitegang di depan umum. Saya yakin, orang secerdas Bu Ratna Sarumpaet akan paham dan memaklumi jika alasan-alasan yang disampaikan masuk akal awam.

Semoga setelah memikirkan dan membayangkan hal ini kita bisa bertanya pada pemerintah, terutama pada regu penolong, dengan nada santun, bukan dengan nada tinggi disertai rasa benci.

KENAPA DIHENTIKAN?
Awalnya saya pun mengira mengangkat shipwreck dari kedalaman 450 meter itu mudah. Seminggu lalu saya menulis sebuah harapan agar pengangkatan dilakukan hati-hati. Setelah saya baca buku-buku saya tentang nautical, shipwreck, dan underwater archaeology, mengangkat dari kedalaman itu sangat sulit. Dalam metode underwater archaelogy, membiarkan tetap di dasar perairan jauh lebih baik daripada diangkat tapi rusak. Toleransi pada kerusakan ini harus dibeli dengan perekaman bawah air yang terperinci dan akurat. Kerja ini berlaku pada kedalaman maksimal 60 meter saja. Pun penyelam yang bisa bekerja di kedalaman ini tidak banyak. Kapal yang diangkat dari kedalaman 450 ada resiko pecah/meledak karena perbedaan tekanan. Ledakan ini bisa terjadi pada rongga2 yang ada di dalam tubuh kapal, terutama yang terisi gas dan bahan bakar. Orang wajar menyangsikan ini, sebab ini masuk kategori resiko, artinya bisa terjadi bisa pula tidak. Jika rongga-rongga itu sudah bocor/terbuka dan terisi air, tidak akan meledak. Untuk memahami ini saya beri perbandingan ini. Saya punya pressure tank di workshop saya berkekuatan 6 bar. Jika bambu bulat dimasukkan ke sini dan diberi tekanan penuh hingga 6 bar, beberapa meledak pecah. Makanya untuk mengawetkan bambu bulat, hanya beri tekanan 3 bar saja. Untuk mengurangi resiko pecah, saya melubangi semua ruasnya. Selain soal tekanan, ahli lain bilang akan terjadi perubahan kimia yang membahayakan--saya lagi mencoba memahami ini.

Jadi, dihentikannya pengangkatan, bukan soal keterbatasan alat dan dana semata, melainkan upaya keras, waktu panjang, dan mahal ini ujung-ujungnya hanya akan mendapat jenazah-jenazah yang PASTI tidak utuh dan kapal yang MUNGKIN tidak utuh pula.

APAKAH BANGKAI KAPAL BISA DIANGKAT?
Menurut saya mungkin. Kita bisa buang tali dengan beberapa jangkar hingga ke dasar sekitar titik koordinat kapal. Tali itu ditarik dengan posisi menyapu hingga ada jangkar yang menyangkut ke kapal. Hal ini bisa dicek dengan robot. Tali jangkar jadi referensi menurunkan robot. Proses ini bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Setelah dipastikan nyantol, buang lagi jangkar dan pastikan lagi seperti itu sampai yakin ada minimal tiga tali yang jangkarnya tersangkut ke kapal. Tarik pakai crane. Jangan langsung, tetapi per minggu cukup 10-20 meter utk penyesuaian tekanan, agar tidak meledak atau terjadi deformasi. Kemungkinan kapal lepas dari kaitan jangkar di tengah-tengah proses pengangkatan sangat besar.

Ini sementara upaya dan proses pengangkatan yang masuk akal menurut saya menyesuaikan dengan kondisi danau. Jika kejadiannya di laut, akan lebih banyak cara. Kita sulit mendatangkan kapal selam, kapal survei, kapal eksplorasi dengan crane yang memadai, tongkang-tongkang untuk mengangkat dan melampungkan. Kapal Sinar Bangun dan 160-an penumpangnya itu ada di dasar danau yang dikelilingi daratan. Ini tantangan bagi pemerintah dan kita. Saya akan teruskan membaca dan bertanya. Mungkin besok ada ide dan pengetahuan baru untuk dibagi, untuk membuka jalan diskusi yang cerdas, bukan saling caci. Di hari ke-11, tim SAR sudah menunjukkan keterbatasannya dan secara jujur minta saran pada kita semua sebagai anak bangsa bagaimana cara mengangkat jenazah-jenazah itu. Bagi yang keberatan dihentikan, mari membantu memberi saran bagaimana caranya.

APA SOLUSINYA?
Penghentian pecarian/pengangkatan, apa pun alasannya, bukan keputusan bijak. Penghentian sementara bisa diterima akal. Untuk apa pula mengerahkan ratusan orang dengan peralatan canggih kalau hasilnya pasti nihil? Kita perlu waktu berpikir menemukan cara yang masuk akal. Jadi, mencari cara untuk mengangkat kapal dari kedalaman 450 meter jangan berhenti. Selain alasan untuk jenazah (Ratna Sarumpaet mengkaitkan dengan kemanusiaan), hal ini penting untuk ilmu pengetahuan. Tantangan ini bisa jadi melahirkan banyak master dan doktor. Kita juga bisa menawarkan pada dunia, sebab urusan kemanusiaan (jenazah dan keluarga korban) serta ilmu pengetahuan "menjadi urusan warga dunia". Yang dalam tanda petik itu saya pinjam ungkapan Ratna Sarumpaet.

Sembari menunggu riset itu, perlu kiranya kita memikirkan tawaran pemerintah membuat monumen untuk mengenang dan mendoakan para korban. Hubungan dengan Tuhan dan orang yang sudah meninggal bukan hubungan yang bersifat fisik, melainkan bathin. Orang beriman tidak akan mempermasalahkan jenazahnya di mana. Jika dibutuhkan axis/kiblat/poros untuk membantu khusu, monumen itu bisa menggantikan peran makam.

Semoga tulisan ini bisa membuka ruang untuk berpikir dan berdiskusi, bukan menyulut pertengkaran. Ini hanya pendapat. Keputusan terbaik tentu saja ada di tangan keluarga para korban dan pihak yang seyogyanya bertanggung jawab (pemerintah).

-----
Penulis adalah underwater archaeologist; bersertifikat: dive master POSSI -- wreck diving SSI -- underwater photografi SSI -- rescue diver SSI, dll.


EmoticonEmoticon