Wednesday, January 11, 2017

Berikan dan Lupakan!!!!


Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir  yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang  dokter. ''Istri saya sakit,'' terdengar suara minta pertolongan. ''Dia  sangat membutuhkan dokter segera. 

'' Si dokter menjawab, ''Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil  saya sedang masuk bengkel.'' Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut  menjadi berang. ''Apa?!'' katanya dengan marah. ''Saya harus pergi  menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?'' 


Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Seperti yang sudah saya  paparkan dalam rubrik ini bulan lalu, kita senantiasa meminta sesuatu  kepada orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita  tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri  kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. 

Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti  halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum  meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus  memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa  Anda. Inilah konsep ''memberi sebelum meminta'' yang sayangnya sering  kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari. 
Padahal ''memberi sebelum meminta'' adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda  ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus  memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin  karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus  memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif.  Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan  memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain. 

Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui  perasaan takut miskin. Inilah orang-orang yang ''miskin'' dalam arti  yang sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi.  Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan  hilang. Ia pasti kembali kepada Anda. 

Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya  langsung dari orang yang ditolongnya. Ini suatu kesalahan. Dengan  melakukan hal itu, Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak  bernilai. Anda mempraktikkan manajemen ''Ada Udang Di Balik Batu.'' Anda  tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang  yang menerima pemberian Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan  pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan. 

Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang  memberi tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan  harta saja, Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang  paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu  percaya bahwa apapun yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada  Anda. Ini merupakan suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati. 

Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan  dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang.  Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang  selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain.  Orang ini pasti dibenci dimana pun ia berada. 

Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri,  tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain  bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep  mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu  memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang  akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya  sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri. 

Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak  terlantar dan orang-orang miskin? Ini pun sebenarnya adalah tindakan  ''mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.'' Anda  mungkin tak setuju dan mengatakan, ''Bukankah saya tidak mendapatkan  apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela. 

'' Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi  apakah Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa? Jangan salah, Anda  tetap akan mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin  inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal  ini. 

Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk  kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak  memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri  mereka sendiri. 

Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan  kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang,  menang.


EmoticonEmoticon